Latest Entries »

Jumat, 01 Juni 2012

Tentang Memaafkan Dan Berlapang Dada

Dalam berinteraksi dengan masyarakat, mau tidak mau, suka tidak suka, sengaja atau tidak sengaja pasti akan terjadi singgung menyinggung dan luka melukai perasaan. Andaikata perasaan kita yang terluka atau dilukai oleh orang lain, maka Islam mengajarkan tiga sikap meresponnya. Pertama, menahan marah; kedua, memberi maaf dan ketiga, membalasnya dengan kebaikan. Sikap yang pertama minimal, yang kedua lebih baik, dan yang ketiga paling baik. Allah S.W.A.T berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

  1. Menahan Marah
Kesalahan orang lain terhadap kita jangan direspons dengan emosi yang tidak terkendali. Karena emosi yang tidak terkendali akan cenderung mendatangkan tindakan negatif berikutnya yang tidak jarang kemudian akan disesali. Nabi pernah memberi nasehat kepada seseorang yang datang meminta nasehat kepada beliau. “Jangan kamu marah”. Nabi mengulangi nasehat itu sampai beberapa kali. (H.R. Bukhari).
Tidak boleh marah bukan berarti membiarkan suatu kesalahan dan kemunkaran terjadi. Tidak. Nahi Munkar dan mengoreksi kesalahan yang dilakukan orang lain adalah amal baik yang diperintahkan Islam, tetapi nahi munkar dan marah adalah dua hal yang berbeda. Yang dituju dari nahi munkar adalah perbuatan yang tidak benar, tetapi yang diserang dalam marah adalah pribadi yang melakukannya, bukan perbuatannya itu sendiri.
Orang marah lebih banyak dikendalikan oleh emosinya, sehingga kadang-kadang berlaku seperti orang bodoh. Dimana alat-alat rumah tangga, benda-benda berharga, bahkan anginpun bisa menjadi sasaran pelampiasan marahnya. Pernah terjadi dalam suatu peristiwa, sorban seorang laki-laki berkibar-kibar ditiup angin, lalu dia memaki dan mengutuk angin. Menyaksikan perbuatan bodoh itu Nabi mengingatkan:
Jangan kamu memaki angin dan bila kamu melhat apa yang tidak kamu sukai, maka bacalah: Ya Allah, kami nohon kepadam-Mu dari kebaikan angin ini dan kebaikan apa yang terkandung di dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini dan kejahatan apa yang didalamnya dan bahaya apa yang diperintahkan kepadanya”. (H.R. Tirmidzi).
Kita sudah sering menyaksikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, betapa berbahayanya kalau segala persoalan yang muncul disikapi dengan marah, baik dalam persoalan kriminal maupun politik.
Dalam kriminal misalnya, betapa mudahnya masyarakat melampiaskan kemarahnnya kepada pencuri atau orang-orang yang baru dituduh mencuri dengan memukulinya berame-rame sampai babak belur. Bahkan tidak jarang terjadi hingga ke arah tindakan membakar hidup-hidup tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun. Sudah tentu, sekalipun dia bersalah, hukuman yang diterimanya sama sekali tidak setimpal dengan kesalahannya. Apalagi menurut agama ataupun hukum positif, main hakim sendiri adalah perbuatan yang tercela. Begitu juga dalam dunia politik, dalam menyikapi perbedaan pendapat atau sikap politik atau kekalahan dalam pilkada, tidak sedikit anggota masyarakat yang menghadapinya dengan kemarahan dalam bentuk tindakan – tindakan anarkhisme / destruktif seperti halnya melempar batu, membakar kantor, merusak gedung-gedung sekolah, memblokir jalanan hingga menimbulkan kemacetan dan sebagainya.
Andaikata seseorang tidak mampu menguasai amarahnya segera kepada orang lain yang menyakiti atau menyinggung perasaannya, dia boleh menghindar untuk menenangkan diri dan menguasai nafsu amarahnya.
Rasulullah S.A.W. memberi waktu tiga hari, karena tiga hari tersebut dianggap sudah cukup untuk meredakan kemarahan. Setelah itu dia wajib kembali menyambung tali persaudaraan dan persahabatan sebagai sesama Muslim. Rasulullah bersabda:
Tidaklah halal bagi sesama Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik diantara keduanya ialah memulai lebih dahulu mengucapkan salam.” (H. Muttafaqun Alaihi)
Segala sesuatu sudah ada aturan dan mekanismenya masing-masing. Jika seseorang dituduh melakukan tindakan kriminal, laporkan ke polisi dan diproses secara hukum. Jika terjadi perbedaan pendapat ya dimusyawarahkan, apabila musyawarah tersebut tidak membuahkan kesepakata, putuskan dengan pemungutan suara. Yang pendapatnya didukung mayoritas tidak boleh mentang-mentang. Yang kalah jangan lari dari tanggung jawab. Tapi betapapun bagusnya sebuah aturan dan betapapun rapinya sebuah mekanisme, dengan kemarahan semuanya jadi tidak berguna. Oleh sebab itu marilah kita belajar (kembali) menahan amarah.

  1. Memberi Maaf
Orang yang mampu menahan marah belum tentu telah memaafkan. Oleh sebab itu sikap yang lebih baik dalam merespons kesalahan orang lain kepada kita adalah memberi maaf sebelum orang tersebut meminta maaf. Apalagi kalau sudah dimintai maaf. Jangan dendam, karena dendam adalah perbuatan tercela, disamping berdosa bagi yang melakukannya, juga dapat merusak dan merugikan diri sendiri.
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al'afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau berlebih. Sebagaimana disebutkan didalam Surat Al-Baqarah ayat 219.
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 219)
Yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al'afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati.
Kata al'afwu terulang dalam Al-Quran sebanyak 34 kali. Selain satu kali berarti kelebihan – sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 219 di atas – selebihnya berarti memberi maaf, dan tidak sekalipun berati meminta maaf. Tapi ayat ini menganjurkan kepada kita untuk tidak menanti permohonan maaf dari orang yang telah berbuat kesalahan kepada kita atau menyakiti kita.
Dendam adalah menahan rasa permusuhan di dalam hati dan menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang yang pendendam tidak akan mau memaafkan kesalahan orang lain sekalipun orang tersebut telah meminta maaf kepadanya. Bagi dia, tidak ada maaf sebelum dia mendapatkan kesempatan membalaskan sakit hatinya. Dia bersedia menunggu dalam waktu yang lama bahkan akan berusaha dengan bersusah payah untuk membalaskan sakit hatinya. Orang yang enggan memberikan maaf pada hakekatnya enggan memperoleh pengampunan dari Allah S.W.T. Allah S.W.T. Sendiri telah berjanji akan memberikan maaf dan ampunan kepada setiap orang yang meminta ampun kepada-Nya. Apa alasan manusia yang dha'if untuk tidak memberikan maaf kepada sesama?
Sifat pendendam tidak hanya merusak pergaulan bermasyarakat, tapi juga merugikan dirinya sendiri. Energi akan terkuras dalam memelihara dan berusaha untuk melampiaskan dendamnya. Oleh sebab itu jauhilah sifat pendendam betapapun kecilnya. Tindakan memberi maaf sebaiknya diikuti dengan tindakan berlapang dada. Di dalam beberapa ayat Al-Quran perintah memaafkan diikuti dengan perintah berlapang dada seperti pada ayat berikut :
.....maafkanlah mereka dan berlapang dadalah, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan terhadap orang yang melakukan kesalahan kepadanya”. (Q.S. Al-Maidah 5:13)
Untuk lebih memahami maksud berlapang dada, ada baiknya dilakukan tinjauan kebahasaan. Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut dengan ash-shafhu yang secara etimologis berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini ash-shafhu dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahah karena melakukannya menjadi pertanda kelapangan dada.
Ibarat menulis di selembar kertas, jika terjadi kesalahan tulis, kesalahan itu akan dihapus dengan alat penghapus. Tapi serapi-rapinya menghapus tentu akan tetap meninggalkan bekas. Bahkan kemungkinan kertas yang dipakai pun akan menjadi kusut. Supaya lebih baik dan lebih rapi, sebaiknya diganti saja kertasnya dengan lembaran yang baru. Menghapus kesalahan itulah yang disebut memaafkan. Sedangkan berlapang dada adalah menukar lembaran yang salah dengan lembaran yang baru sama sekali. Jadi berlapang dada menuntut seseorang untuk membuka lembaran baru hingga suatu hubungan tidak sedikitpun tampak ternodai, tidak kusut dan tidak seperti halaman yang telah dihapus kesalahannya! Amin. Wallahu 'alam.

0 comments:

Poskan Komentar