Latest Entries »

Jumat, 25 Mei 2012

Kohesi dan Koherensi


KOHESI DAN KOHERENSI

A.     Kohesi
                        Kohesi adalah suatu konsep semantis yang menunjuk pada hubungan makna antar kalimat dalam suatu wacana. Kohesi menunjuk pada hubungan suatu  kalimat dengan kalimat lain, sebelum dan sesudahnya di dalam wacana. Berdasarkan hal itu dapat diketahui bahwa wacana yang dihadapi adalah wacana yang terdiri dari dua kalimat atau lebih. Yang menjadi persoalan dalam kohesi adalah menunjukkan hubungan kalimat-kalimat dalam wacana melalui pertalian unsur-unsur yang dikandungnya secara semantik tekstual. Wacana yang akan dianalisis adalah wacana dengan tingkat tataran alinea dan antara dua alinea yang berdekatan. 

                        Kohesi muncul apabila penafsiran unsur tertentu di dalam sebuah wacana tergantung pada penafsiran unsur yang lain di dalam wacana yang sama. Dengan kata lain, suatu unsur memperanggapkan unsur yang lain, sehingga kedua kalimat yang mengandung unsur tersebut menjadi terpadu (kohesif). Yang diperanggapkan itu dapat berupa sebuah kata, frase, klausa, atau kalimat.
                        Kohesi secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi dua. Pertama, berdasarkan pilihan bentuk yang digunakannya, antara lain.
a.   Kohesei gramatikal, yaitu hubungan kohesif yang dicapai dengan penggunaan elemen dan aturan gramatikal, meliputi referensi, substitusi, dan elipsis;
b.    Kohesi leksikal, yaitu efek kohesif yang dicapai melalui pemilihan kosakata.
            Kedua, berdasarkan asal hubungannya, kohesi diklasifikasi lebih jauh berdasarkan tiga hal, yaitu.
a.         Keterkaitan bentuk yang meliputi substitusi, elipsis, dan kolokasi leksikal;
b.         Keterkaitan referensi yang meliputi referensi dan reiterasi leksikal;
c.         Hubungan semantik yang diperantai oleh konjungsi.
       Menurut Untung Yuwono dalam bukunya yang berjudul Pesona Bahasa menyatakan bahwa kohesi tidak datang dengan sendirinya, tetapi diciptakan secara formal oleh alat bahasa yang disebut pemarkah kohesi, misalnya kata ganti, kata tunjuk, kata sambung, dan kata yang diulang. Pemarkah kohesi yang digunakan secara tepat menghasilkan kohesi leksikal dan kohesi gramatikal. Kohesi leksikal adalah hubungan semantis antarunsur pembentuk wacana dengan memanfaatkan unsur leksikal atau kata yang dapat diwujudkan dengan reiterasi dan kolokasi. Reiterasi adalah pengulangan kata-kata pada kalimat berikutnya untuk memberikan penekanan bahwa kata-kata tersebut merupakan fokus pembicaraan. Reiterasi dapat berupa repetisi, sinonimi, hiponimi, metonimi, dan antonimi. Sedangkan kolokasi adalah hubungan antarkata yang berada pada lingkungan atau bidang yang sama. Contohnya, [petani] di Lampung terancam gagal memanen [padi]. [sawah] yang mereka garap terendam banjir selama dua hari. Sedangkan kohesi gramatikal adalah hubungan semantis antarunsur yang dimarkahi alat gramatikal, yaitu alat bahasa yang digunakan dalam kaitannya dengan tata bahasa. Kohesi gramatikal dapat berwujud referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi. 
                        Berdasarkan penjelasan tersebut, diketahui ada lima macam peranti kohesi, yaitu referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal.
a.       Referensi
Referensi adalah hubungan antara satuan bahasa, benda, atau hal yang terdapat di dunia yang diacu oleh satuan bahasa tersebut.
Contohnya, aku suka [kucing], dan aku juga suka [kelinci]. [itulah] kesukaanku.
b.      Substitusi
Subtitusi adalah penggantian item tertentu dengan item yang lain.
Contohnya, [Ahmad] datang menagih lagi. [orang itu] benar-benr tidak tahu malu.
c.       Elipsis
Elipsis adalah penghilangan item tertentu.
Contohnya adalah sebagai berikut.
Rina     : [Apakah adikmu akan lulus ujian?]
Rani     : Saya harap [begitu].
d.      Konjungsi
Konjungsi tercipta secara tidak langsung melalui keberadaannya yang memberikan makna tertentu bagi hubungan antarelemen dalam teks. Contohnya, Ayah bekerja [dan] adik sekolah.
e.       Kohesi Leksikal
Leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi, misalnya pengulangan kata yang sama, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi, dan ekuivalen. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi, antara lain:
a. pengulangan kata yang sama : pemuda – pemuda
b. sinonim : pahlawan – pejuang
c. antonim : putra – putri
d. hiponim : angkutan darat – kereta api, bis, mobil
e. kolokasi : buku, koran, majalah – media massa
f. ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajaran

B.     Koherensi
                        Koherensi atau keterpaduan yang baik dan kompak adalah timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat. Bagaimana hubungan subjek dan predikat, hubungan antara predikat dan objek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi. Setiap bahasa memiliki kaidah-kaidah tersendiri bagaimana mengurutkan gagasan-gagasan tersebut. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang erat, sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan di mana saja, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok kata yang rapat hubungannya.

C.     Kohesi dan Koherensi dalam Paragraf
Paragraf
                        Paragraf adalah gabungan kalimat yang mengandung satu gagasan pokok dan didukung oleh gagasan-gagasan penjelas. Gagasan pokok dan gagasan penjelas ini harus memiliki keterpaduan bentuk (kohesi) dan keterpaduan makna (koherensi).
Kepaduan Makna (Koherensi)
                        Suatu paragraf dikatakan koheren, apabila ada kekompakan antara gagasan yang dikemukakan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Kalimat-kalimatnya memiliki hubungan timbal balik serta secara bersama-sama membahas satu gagasan utama. Tidak dijumpai satu pun kalimat yang menyimpang dari gagasan utama ataupun loncatan-loncatan pikiran yang membingungkan.
Contoh:
Buku merupakan investasi masa depan. Buku adalah jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala seseorang. Dibanding media pembelajaran audiovisual, buku lebih mampu mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi anak-anak karena membuat otak lebih aktif mengasosiasikan simbol dengan makna. Radio adalah media alat elektronik yang banyak didengar di masyarakat. Namun demikian, minat dan kemampuan mambaca tidak akan tumbuh secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan pembiasaan. Menciptakan generasi literat membutuhkan proses dan sarana yang kondusif.
                        Paragraf di atas dikatakan tidak koheren karena terdapat satu kalimat yang melenceng dari gagasan utamanya yaitu kalimat yang dicetak tebal.
Keterpaduan Bentuk  (Kohesi)
                        Apabila koherensi berhubungan dengan isi, maka kohesi atau keterpaduan bentuk berkaitan dengan penggunaan kata-katanya. Bisa saja satu paragraf mengemukakan satu gagasan utama, namun belum tentu paragraf tersebut dikatakan kohesif jika kata-katanya tidak padu.
Contoh:
Pada tahun 1997, produksi padi turun 3,85 persen. Impor beras meningkat, diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 1998. swasembada pangan tercapai pada tahun 1984, pada tahun 1985, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton pada tahun 1993. pada tahun 1994, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu ton. Impor beras meningkat dan pada tahun 1997 mencapai 2,5 juta ton.
                        Paragraf di atas mengemukakan satu gagasan utama, yaitu mengenai masalah naik turunnya produksi beras Indonesia. Dengan demikian koherensi kalimat tersebut sudah terpenuhi, namun paragraf tersebut dikatakan tidak memiliki kohesivitas yang baik sehingga gagasan tersebut sulit dipahami. Paragraf tersebut perlu diperbaiki, misalnya dengan memberikan kata perangkai seperti berikut ini.
                        Pada tahun 1997, produksi padi turun 3,85 persen. Akibatnya, impor beras meningkat, diperkirakan menjadi 3,1 ton tahun 1998. Sesudah swasembada pangan tercapai pada tahun 1984, pada tahun 1985, kita mengekspor sebesar 371,3 ribu ton beras, bahkan 530,7 ribu ton pada tahun 1993. Akan tetapi, pada tahun 1994, neraca perdagangan beras kita tekor 400 ribu ton. Sejak itu, impor beras meningkat dan pada tahun 1997 mencapai 2,5 juta ton.


DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati, Tina. 2011. Kohesi dan Koherensi oleh Tian Fatmanuraini . http://tianfatmanuraini.blogspot.com/2011/07/kohesi-dan-koherensi.html (diunduh 1 Desember 2011).

Andi. 2009. Kohesi dan Koherensi dalam Paragraf. http://andipraz.wordpress.com/2009/08/25/kohesi-dan-koherensi-dalam-paragraf/ (diunduh 1 Desember 2011).

Anonim. 2008. Kohesi dan Koherensi pada Iklan Layanan Masyarakat. http://karangan-dhesy.blogspot.com/2008/04/kohesi-dan-koherensi-pada-iklan-layanan.html (diunduh 1 Desember 2011).









2 comments:

hardianto fifko mengatakan...

saya sgt brtrima kasih, karena berkat tulisan ini saya bisa menjawab pertanyaan dari teman2.

Viki Fintaru mengatakan...

tulisannya bagus,thanks :D

Poskan Komentar