Latest Entries »

Sabtu, 14 Januari 2012

Nama Tuhan Menurut Agama-agama serta Pembuktian Wujud Tuhan

PENDAPAT PENULIS

    Kita sebagai umat manusia menyadari Tuhan itu ada. Karena kita mulai memikirkan asal-usul alam semesta ini. Alam semesta tercipta dengan hebat bahkan dengan manusia yang mencipta hebat sekalipun. Pencipta yang Maha Hebat itu adalah Tuhan.
    Setiap umat beragama pasti menyembah Tuha. Menyembah Tuhan-Nya sesuai dengan ketentuan yang ada pada agama yang dianutnya. Seperti yang kita ketahui berbagai agama yang ada di dunia ini. Pemeluknya menyebutnya dengan nama yang sesuai dengan agama masing-masing.
    Di Indonesia ada berbagai macam agama, diantaranya Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain. Berikut nama tuhan yang saya ketahui :
1.    Islam menyebut nama Tuhan dengan Allah.
2.    Kristen menyebutnya dengan Tri Tunggal yaitu Allah bapa, Allah Putra dan Roh Kudus.
3.    Hindu menyebut Tuhan dengan Indra, Mitra, Waruna, Agnu. Mereka menyebutnya dengan Dewa.
4.    Budha. Budha sendiri adalah sebutan orang yang telah mencapai kesempurnaan.
5.    Dll.
    Kita yakin bahwa Tuhan itu ada. Adanya Tuhan dapat kita buktikan dengan adanya alam semesta ini. Begitu hebat alam semesta ini, siapa lagi yang mampu menciptakan selain Tuhan yang Maha segala-galanya. Alam semesta yang tercipta dengan teratur dan sistematis. Karya manusia hebat sekalipun tak akan pernah menandinginya. Lihat saja bumi ini, tercipta dengan apik seperti adanya air, udara, gunung, laut. Semua itu tercipta dengan apik dan berguna bagi manusia.
    Saya tidak tahu bagaimana wujud Tuhan itu tetapi saya yakin berbeda dengan makhluk yang diciptakannya. Seperti falsafah udara, kita tidak dapat melihatnya tapi bisa merasakannya. Wallah Walam Bishowab.




PEMBAHASAN
Konsep Ketuhanan dalam Islam
A.    Nama Tuhan Menurut Aagama-agama
        Manusia di seluruh dunia mengetahui adanya Tuhan. Akan tetapi mereka menyebut nama Tuhan berbeda-beda sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam suatu agama, pelafalan nama Tuhan biasanya memiliki nama yang sederajat dengan makna dan kedudukan sebagai Tuhan. Sebuatan itu biasa dipergunakan manusia untuk memuja Tuhannya tanpa mengurangi kedudukan tingkat relegiusitasnya. Nama Tuhan tetap ada pada tatanan tertinggi kehidupan. Misalnya :

1.    ISLAM
    Islam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah. Lafaz “Allah” dibaca dengan khaedah tertentu. Kata “Allah” tidak boleh diucapkan sembarangan tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullahh SAW. Dengan begitu kaum muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Dan nama Tuhan yakni “Allah” juga bersifat otentik dan final. Umat islam tidak melakukan spekulasi untuk menyebut nama Tuhan karena itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT melalui Al-Quran. Diantaranya :
a.    Al Ikhlas ayat 1 dan 2
Artinya : Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
b.    Al Fatihah ayat 1
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    Nama Allah banyak terdapat dalam Al-Quran, sehingga umat Islam tidak memperdebatkannya dan kaum muslimin tidak menghadapi penyebutan nama Tuhan. Sepanjang sejarahnya Dengan demikian menyebut nama Allah adalah final dengan nama-nama lain Allah (al-asmaul husna) yang ada di Al-Quran.
2.    Kristen dan Khatolik
    Ajaran Ketuhanan dalam Kristen termasuk gereja romawi Khatolik adalah sebagaimana tercantum dalam Kredi Iman Rasuli yaitu Tri Tunggal yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Ketiganya adalah pribadi Tuhan.
    Terjemahan Bibel dalam bahasa Indonesia dinamakan Al Kitab, menggunakan kata “Allah” untuk Tuhan Bapa. Di lihat dari segi pengucapan, cara mengucapkan kata “Allah” berbeda dengan kaum muslimin yaitu umat kristen membacanya dengan sebutan “Alah”
    Menurut iman Kristiani, Allah sebagai oknum / pribadi yang dimana pada dirinya terdapat tiga kodrat Ketuhanan-Nya yaitu :
a.    Mencipta
Kuasa mencipta ini dalam perjanjian baru disebut oleh Yesus dengan predikat Bapa (Matius 11:25, Lukas 10:21).
b.    Berfirman
Kuasa berfirman (dan bertindak) ini dalam perjanjian baru disebut oleh Yesus dengan predikat Anak (Yohane 1:14, Yohanes 1:18, Matius 16:16).
c.    Roh Allah
d.    Roh Allah yang berkuasa memelihara, mengayomi, membimbing dan menolong ini dalam perjanjian baru oleh Yesus disebut dengan Roh Kudus (Yohanes 14:16-17, Yohanes 14:26).
3.    Hindu
    Ajaran ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam RP Weda 1.1164, mereka menyebut Tuhannya dengan  Indra, Mitra, Waruna, Agni. Dalam istilah Tuhan Yang Maha Esa disebut Dewa. Dewa mengandung dua pengertian yaitu Tuhan Yang Mahha Esa dan Dewa yang diciptakan paling tinggi.
    Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah suci Shindu di Bhratawarsa (India). Di lembah sungai suci Shindu inilah para maharsi menerima wahyu Brahma, Sang hyang Widhi Wasa dan kemudian diabadikan dalam bentuk pustaka suci Wedhadu inilah para maharsi menerima wahyu Brahma, Sang hyang Widhi Wasa dan kemudian diabadikan dalam bentuk pustaka suci Wedha. Weda adalah kitab suci agama Hindu yang mengandung pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi.
4.    Budha
    Budha adalah sebutan bagi orang yang mencapai kesempurnaan. Orang yang telah mencapai kesempurnaan adalah Sidharta Gautama.
    Dalam agama Budha, Tuhan tidak bernama. Budha tidak menyebutkan nama Tuhan dengan sebutan tertentu. Dalam buku yang berjudul “be Buddhist be happy”, seorang Buddhist meyakini adanya Tuhan yang dikenal dengan sebutan “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkam” yang artinya sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, yang mutlak. Tuhan Yang Maha esa di dalam agama Budha adalah Aratman (tanpa aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak digambarkan dalam bentuk apapun.
5.    Yahudi
    Pada agama Yahudi hingga kini masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep Judaism (Agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan adalah Yahweh. Dalam buku Jesus dan yahweh yang diciptakan oleh Harold Blom menyatakan bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah diketahui bagaimana mengucapkannya. Dan jika membaca kata YHWH dalam al kitab, orang Yahudi membacanya dengan kata Adonay (Tuhan) / Ha Shem (nama segala nama).
6.    Dll.


B.    Pembuktian Wujud Tuhan
        Tantangn zaman terhadap agama terletak dalam masalah pembuktian. Pembuktian terhadap agama dan pembuktian mujud Tuhan. Terdapat berbagai macam pembuktian atau metode-metode yang ada untuk membuktikan wujud Tuhan.
        Para agamawan dalam membuktikan keberadaan Tuhan tersebut memberikan berbagai macam argumen, dimana metode penggunaan dan penyampaian argumen tersebut sangat tergantung kepada disiplin ilmu masing-masing ilmu agamawan itu sendiri. Yaitu ;
a.    Metode yang dipakai oleh teolog
Selain berdasarkan argumen akal, metode ini juga bertumpu pada teks-teks agama dan fenomena keberagaman lain.
b.    Metode yang dipakai oleh para filsof
Penggunaan argumen akal murni merupakan ciri khas metode ini.
c.    Metode yang dipakai oleh para ahli mistik (tasawuf). Metode ini lebih bertumpu pada pembuktian keberadaan Tuhan melalui penglihatan mata batin.
        Walaupun metode mereka berbeda namun tujuan mereka satu, yaitu mengungkap teka-teki tentang Tuhan.
Pembuktian wujud tuhan dapat dibuktikan dengan :
1.    Keindahan alam semesta
    Keanekaragaman alam yang indah ada di dunia ini. Seperti saat kita melihat keindahan matahari baik waktu terbit maupun terbenam. Keanekaragaman tumbuhan dan bunga-bunga yang warna-warni, indah mempesona. Atau ketika melihat laut beserta isinya yang indah akan terumbukarang dan berbagai macam ikan yang indah. Keseluruhan itu diluar kuasa manusia untuk membuatnya. Manusia diarahkan kepada siapa pembuat keanekaragaman itu semua, mka manusia akan yakin akan adanya Tuhan. Tuhan yang membuat alam semesta.
2.    Pikiran, ilmu dan filsafat
    Ketika manusia berfikir tentang terciptanya alam semesta ini maka ia akan heran betapa rapinya ciptaan yang ada di bumi ini. Seperti matahari yang selalu memancarkan sinarnya. Matahari, bulan dan bintan tidak pernah bertabrakan. Dari sini manusia akan bertanya pada dirinya, siapa pengatur yang sempurna ini. Maka manusia akan berucap tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT.
    Setiap ilmu berkembang itu pula manusia akan menemukan keajaiban. Betapa sempurna ukuran kimiawi pada manusia, binatang, tumbuhan, bebatuan, air, ikan dll. Manusia diarahkan pada pembuat formula yang hebat itu yaitu pada Allah SWT.
3.    Hidup
    Manusia hidup dan terdiri dari berbagai unsur kimia. Unsur-unsur tersebut membuat hidup manusia. Lalu bagaimana jika unsur-unsur kimia itu tidak ada dalam tubuh manusia, apakah manusia akan tetap hidup? Demikian pula dengan orang sakit parah, apakah seorang dokter sudah pasti bisa menyembuhkan pasien walaupun dengan peralatan yang canggih sekalipun? Jika ada tanah yang kering dan tandus, apakah manusia mampu menyuburkannya? Dari sini manusia kembali diarahkan pada siapa yang menghidupkan ini semua. Dan yang bisa menghidupkan hanya Allah SWT.
4.    Jalan tasawuf
    Pada pembuktian di atas mengarahkanmanusia keluar dari dirinya. Sedangkan tasawuf mengarahkan manusia ke dalam dirinya sendiri. Dengan memahami dirinya maka manusia akan mengenali Tuhannya.
    Manusia dengan mengamati dirinya akan menemukan mesin yang hebat, hal ini mengarahkan pada pembuat mesin yang ada pada diri manusia. Pembuat mesin yang hebat itu adalah Allah SWT.
5.    Fitrah
    Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada Sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk hidup tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang memalingkannya.
    Sabda Rasullulah dalam Hadist riwayat Bukhari ;
“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikan Yahudi, Kristiani atau Majusi”
    Manusia diciptakan dengan fitrah bertuhan sehingga kadang kalanya disadari atau tidak, disertai belajar atau tidak, naluri bertuhannya akan bangkit. Allah SWT berfirman :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman). “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (Al-A’raf 172)
    Dari ayat dan hadist di atas menjelaskan fitrah manusia bertuhan. Ketuhanan ini bisa dipahami sebagai Ketuhanan Islam. Karena pengakuannya bahwa Allah SWT adalah Tuhan. Selain itu adanya pernyataan kedua orang tua yang menjadikan keturunannya Nasrani, yahudi, atau Majusi, tanpa menunjukkan kata menjadikan islam terkandung maksud bahwa menjadi islam adalah tuntutan fitrah. Dari sisni disimpulkan secara fitrah, tidak ada manusia yang menolak adanya Allah sebagai Tuhan yang hakiki, akan tetapi faktor luar yang bisa membelokkan dari Tuhan yang hakiki menjadi menyimpang ke Tuhan-tuhan yang lain.

        Selain metode-metode di atas, pembuktian wujud Tuhan juga dikemukakan oleh para ahli.
    Pembuktian wujud Tuhan (Zakiah Darajat 1986:78-80) yaitu dengan cara sebagai berikut:
1.    Dalil Nidham
        Dalil nidham yaitu dalil yang mengarahkan manusia untuk mengamati ciptaan Allah yang sangat rapi, teratur dan tidak ada kekacauan.

2.    Dalil Inayah
        Dalil inayah yaitu dalil yang mengarahkan manusia untuk merasakan manfaat alam semesta. Terjadinya alam semesta ini untuk kebutuhan manusia. Dan siapa yang menyediakannya? Siapa lagi kalau bukan Allah SWT.
        Allah SWT berfirman :
         “Tidaklah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentinganmu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” (Al-Luqman 20)
Juga terdapat dalam Qs. An-Naba’ 78:6-16, QS. Ali Imron 3:190-191.

3.    Dalil Ikhtiro’
        Dalil ikhtiro’ yaitu dalil yang mengarahkan manusia untuk menghayati dan mengamati keserasian dan keharmonisan beraneka macam yang ada di alam semesta ini.
        Allah SWT berfirman :

        “Maka tidaklah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan bagaimana langit ditinggikan ? Dan bagaimana gunung-gunung ditegakkan ? Dan bagaimana bumi dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (Al Ghasiyah 17-22)
Juga terdapat dalam QS. Al Hajj 73.


    Pembuktian wujud Tuhan (Hamdan Mansoer,dkk 2004:9-12) yaitu dengancara sebagai berikut:
1.    Metode Pembuktian Ilmiah
        Tantangan zaman modern terhadap agama terletak dalam masalah metode pembuktian. Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan pengamatan, sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera, yang tidak mungkin dilakukan percobaan (agama didasarkan pada analogi dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan menurut metode ini agama batal, sebab agama tidak mempunyai landasan ilmiah.
        Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab juga tidak mempunyai landasan ilmiah. Metode baru tidak mengingkari wujud sesuatu, walaupun belum diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga tidak menolak analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan dianggap sama dengan percobaan empiris.
        Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah, tidak hanya karena percobaan itu dapat diamati secara langsung. Demikian pula suatu analogi tidak dapat dianggap salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar dan salah dari keduanya berada pada tingkat yang sama.
        Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang pasti, karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada persoalan yang dapat diamati dengan hanya penelitian secara empiris saja. Teori yang disimpulkan dari pengamatan merupakan hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi. Orang yang mempelajari ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa kebanyakan pandangan pengetahuan modern, hanya merupakan interpretasi terhadap pengamatan dan pandangan tersebut belum dicoba secara empiris. Oleh karena itu banyak sarjana percaya padanya hakikat yang tidak dapat diindera secara langsung. Sarjana mana pun tidak mampu melangkah lebih jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: “Gaya” (force), “Energy”, “alam” (nature), dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang sarjana pun yang mengenal apa itu: “Gaya, energi, alam, dan hukum alam”. Sarjana tersebut tidak mampu memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut secara sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu memberikan penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya percaya sesuai dengan bidangnya pada sebab-sebab yang tidak diketahui.
        Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang ghaib” dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”. Sebab, baik agama maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada keimanan pada yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama yang sebenarnya adalah ruang lingkup “penentuan hakikat” terakhir dan asli, sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan terbatas pada pembahasan ciri-ciri luar saja. Kalau ilmu pengtahuan memasuki bidang penentuan hakikat, yang sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu pengetahuan telah menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab itu harus ditempuh bidang lain.
        Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang menafsirkan pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat yang diamati. Mereka tidak dapat mengatakan:  Kenyataan yang diamati adalah satu-satunya “ilmu” dan semua hal yang berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak dapat diamati. Sebenarnya apa yang disebut dengan iman kepada yang ghaib oleh orang mukmin, adalah iman kepada hakikat yang tidak dapat diamati. Hal ini tidak berarti satu kepercayaan buta, tetapi justru merupakan interpretasi yang terbaik terhadap kenyataan yang tidak dapat diamati oleh para sarjana.
2.    Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
        Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
        Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan: <> adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa pencipta?
3.    Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
        Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi setelah ditemukan “hukum kedua termodinamika”  (Second law of Thermodynamics), pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.
        Hukum tersebut yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori pembatasan perubahan energi panas membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah dari keadaan yang tidak panas menjadi panas. Perubahan energi panas dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan “energi yang tidak ada”.
        Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal itu membuktikan secara pasti bahwa alam bukan bersifat azali. Seandainya alam ini azali, maka sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini. Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.
4.    Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
        Benda alam yang paling dekat dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya dari bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi dan menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh sembilan hari sekali. Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam dan menempuh garis edarnya sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di samping bumi terdapat gugus sembilan planet tata surya, termasuk bumi, yang mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa.
        Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama-sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edarnya. Galaxy dimana terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.
        Logika manusia dengan memperhatikan sistem yang luar biasa dan organisasi yang teliti, akan berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini terjadi dengan sendirinya, bahkan akan menyimpulkan bahwa di balik semuanya itu ada kekuatan maha besar yang membuat dan mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut, kekuatan maha besar tersebut adalah Tuhan.
        Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “dalil ikhtira”. Di samping itu Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “dalil inayah”. Dalil ‘inayah adalah metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia.



KESIMPULAN
    Manusia meyakini adanya Tuhan, akan tetapi mereka menyebut nama Tuhan berbeda sesuai dengan agama masing masing. Berikut sebutan nama tuhan menurut berbagai agama :
1.    Islam
    Islam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah. Lafaz “Allah” dibaca dengan khaedah tertentu. Kata “Allah” tidak boleh diucapkan sembarangan tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullahh SAW. Pelafalan ini sudah ada di Al Quran.
2.    Kristen dan Katolik
    Ketuhanan dalam Kristen termasuk gereja romawi Khatolik adalah sebagaimana tercantum dalam Kredi Iman Rasuli yaitu Tri Tunggal yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putra dan Roh Kudus. Ketiganya adalah pribadi Tuhan.
3.    Hindu
    Ajaran ketuhanan sebagaimana yang tertuang dalam RP Weda 1.1164, mereka menyebut Tuhannya dengan  Indra, Mitra, Waruna, Agni. Dalam istilah Tuhan Yang Maha Esa disebut Dewa. Dewa mengandung dua pengertian yaitu Tuhan Yang Mahha Esa dan Dewa yang diciptakan paling tinggi.
4.    Budha
    Budha adalah sebutan bagi orang yang mencapai kesempurnaan. Orang yang telah mencapai kesempurnaan adalah Sidharta Gautama. Dalam agama Budha, Tuhan tidak bernama. Budha tidak menyebutkan nama Tuhan dengan sebutan tertentu.
5.    Yahudi
    Dalam konsep Judaism (Agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan adalah Yahweh.

    Tantangan zaman terhadap agama terletak dalam masalah pembuktian. Pembuktian terhadap agama dan pembuktian mujud Tuhan. Terdapat berbagai macam pembuktian atau metode-metode yang ada untuk membuktikan wujud Tuhan. Berikut metode yang dapat digunakan dalam pembuktian wujud Tuhan :
    Keindahan alam semesta
    Pikiran, ilmu dan filsafat
    Hidup
    Jalan tasawuf
    Fitrah
    Dalil nidham
    Dalil inayah
    Dalil ikhtiro’
    Metode pembuktian ilmiah
    Keberadaan alam membuktikan adanya Tuhan
    Pembuktian adanya Tuhan dengan pendekatan Astronomi
    Pembuktian adanya Tuhan dengan pendekatan Fisika


DAFTAR PUSTAKA

Mahayati, Siti. Moh. Rifai. 2011. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Madiun.

http://pusdiklat-dewandakwah.com/cap-adian-husaini/122-konsep-dan-nama-tuhan.html (diunduh 1 Oktober 2011).

http://syababhidayatullah.or.id/artikel/opini/703-mengkaji-konsep-tuhan-dalam-berbagai-agama (diunduh 1 Oktober 2011).

http://saiful-jihad.blogspot.com/2009/07/i-konsepsi-ketuhanan-dalam-islam.html (diunduh 1 Oktober 2011).

http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/06/23/perbedaan-konsep-tuhan-dalam-islam-dan-berbagai-agama-lainnya (diunduh 1 Oktober 2011).

http://kuliahpai.blogspot.com/2008/11/bukti-adanya-allah.html (diunduh 1 Oktober 2011).

http://marianaramadhani.wordpress.com/coretan-kuliah/konsep-ketuhanan-dalam-islam/ (diunduh 1 Oktober 2011).

http://syahrula58.blogspot.com/2011/09/pembuktian-wujud-tuhan.html (diunduh 1 Oktober 2011).

2 comments:

Agung Pratiknyo mengatakan...

Asalamualaikum.wr.wb
baru baca artikel antum tgl 29-11-12 memang kalau kita lihat kita ini ada dan alam ini ada juga...setiap yang ada pasti butuh pada yang mengadakan....?yang jadi pertanyaan saya kalau seandainya sesuatu itu tidak ada seperti apa pembuktianya??

terimakasih.
wasalamualaikum wr.wb

Anonim mengatakan...

maaf pak Agung, pertanyaan anda terasa aneh "kalau seandainya sesuatu itu tidak ada seperti apa pembuktianya??".
kalau sesuatu itu tidak ada, ya yang mau nanya siapa pak ? (apa lagi yang mau jawab).

Poskan Komentar